← Kembali

Value Investing di Era Informasi Instan

Value Investing di Era Informasi Instan: Mengapa Ia Tidak Akan Pernah Mati

Artikel Umum
Public
@abdul.manaaf.ma
31 Jan 2026

Banyak orang menganggap investasi sebagai sesuatu yang rumit. Padahal, jika disederhanakan ke intinya, investasi—khususnya value investing—sebenarnya sangat simpel:

1. Lakukan valuasi berdasarkan proyeksi kinerja masa depan. 2. Beli di bawah nilai intrinsik dengan margin of safety yang cukup. 3. Berikan waktu agar efek compounding bekerja.

Namun, dalam praktiknya, dua orang investor bisa menghasilkan valuasi yang sangat berbeda untuk saham yang sama. Penyebab utamanya bukan rumus atau model keuangan yang dipakai, melainkan informasi yang mereka miliki dan bagaimana mereka memproses informasi tersebut. Sering kali, harga saham sudah bergerak naik atau turun signifikan sebelum informasi penting resmi dipublikasikan ke publik. Ini memunculkan pertanyaan besar:

Dengan teknologi yang semakin maju dan informasi yang menyebar begitu cepat, apakah value investing akan menjadi usang? Apakah suatu hari nanti harga saham akan selalu mencerminkan nilai intrinsiknya secara sempurna?

Sekilas, pertanyaan ini terdengar masuk akal. Namun jika kita melihat lebih dalam, jawabannya justru sebaliknya.

Ilusi Pasar yang Sepenuhnya Efisien

Dalam teori pasar efisien (efficient market hypothesis), harga saham selalu mencerminkan seluruh informasi yang tersedia. Jika teori ini sepenuhnya benar, maka tidak ada saham yang benar-benar “murah” atau “mahal”—semuanya sudah priced in. Masalahnya, teori ini mengasumsikan manusia sebagai makhluk rasional. Faktanya, pasar tidak digerakkan oleh mesin, tetapi oleh manusia. Dan manusia memiliki satu sifat yang tidak pernah berubah sejak ratusan tahun lalu, terlepas dari seberapa canggih teknologi yang digunakan: greed (keserakahan), beserta pasangannya, fear (ketakutan). Justru di sinilah value investing menemukan ruang hidupnya.

Greed: Bahan Bakar Abadi Value Investing

Greed mendorong investor untuk: - Mengejar saham yang sedang naik tanpa memperhatikan valuasi - Mengabaikan risiko karena takut “ketinggalan” - Bereaksi berlebihan terhadap kabar baik maupun buruk Sebaliknya, fear membuat investor: - Menjual saham bagus hanya karena sentimen negatif jangka pendek - Menganggap masalah sementara sebagai kehancuran permanen - Panik akibat berita, rumor, atau judul clickbait

Kombinasi greed dan fear inilah yang menciptakan mispricing—harga saham yang jauh menyimpang dari nilai intrinsiknya. Dan selama manusia tetap menjadi pelaku utama pasar, kondisi ini tidak akan pernah hilang.

Contoh Kasus di Indonesia: Saham Bagus yang Pernah “Dibuang”

1. Saham Perbankan Saat Krisis COVID-19 (2020)

Pada awal pandemi COVID-19, hampir seluruh saham perbankan di Indonesia mengalami penurunan tajam. Ketakutan akan: - Kredit macet - Perlambatan ekonomi - Resesi berkepanjangan membuat banyak investor menjual saham bank tanpa melihat neraca dan daya tahan bisnisnya. Padahal, bank-bank besar seperti BBCA, BBRI, dan BMRI memiliki Modal kuat, Likuiditas tinggi dan Dukungan kebijakan pemerintah dan BI. Fear mendominasi. Harga turun jauh di bawah nilai wajarnya. Investor yang mampu bersikap rasional dan membeli saat itu menikmati kenaikan signifikan di tahun-tahun berikutnya. Teknologi informasi sudah sangat maju saat itu. Semua orang membaca berita yang sama. Tapi reaksi manusia berbeda-beda.

2. Saham Energi dan Batu Bara: Dari “Ditinggalkan” ke “Diburu”

Beberapa tahun lalu, saham batu bara dianggap sebagai industri sunset. Narasi yang beredar: Transisi energi, ESG, Batu bara akan ditinggalkan dunia. Banyak investor menjauhi sektor ini tanpa melihat: Kontrak jangka panjang, Arus kas besar atau Harga komoditas yang siklikal. Ketika harga batu bara melonjak dan laba perusahaan membengkak, greed kembali mengambil alih. Saham-saham yang dulu diabaikan tiba-tiba menjadi primadona. Ini bukan karena informasi baru semata, tapi karena persepsi pasar berubah secara ekstrem—dari terlalu pesimis menjadi terlalu optimis.

Teknologi Informasi: Pedang Bermata Dua

Perkembangan teknologi memang mempercepat penyebaran informasi. Tapi yang sering dilupakan adalah: ia juga mempercepat penyebaran misinformasi. Hari ini, investor dibanjiri oleh: Headline sensasional, Opini tanpa data, Influencer pasar modal, Grup Telegram dan Twitter spekulatif dan sebagainya. Akibatnya, noise meningkat jauh lebih cepat daripada kualitas informasi. Fear dan greed menyebar lebih cepat daripada laporan keuangan, fundamental bisnis, dan analisis jangka panjang. Bagi value investor, ini justru kabar baik.

Misinformasi sebagai Diskon Tersembunyi

Sering kali, saham bagus menjadi murah bukan karena bisnisnya memburuk, melainkan karena: Kesalahpahaman pasar, Isu jangka pendek, atau Narasi negatif yang dibesar-besarkan. Value investor tidak bergantung pada kecepatan informasi, tetapi pada kedalaman pemahaman. Ketika pasar sibuk bereaksi, value investor sibuk menghitung. Dan selama pasar masih diisi manusia yang emosional, diskon akibat miskomunikasi dan overreaction akan selalu ada.

Value Investing di Era Informasi Instan | Aladdien Stock